PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN UNTUK PENGEMBANGAN WAHANA WISATA PENGGARON (JATENG VALLEY)

Tinjauan Lapangan Calon Lahan Pengganti

Tinjauan Lapangan Lokasi TMKH Jateng Valley

Pembangunan Wahana Wisata Penggaron atau Jateng Valley telah dimulai, ditandai dengan peletakkan batu pertama oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada Sabtu, 15 Agustus 2020. Peluncuran pembangunan Jateng Valley tersebut sekaligus menjadi kado indah pada Hari Ulang Tahun Provinsi Jawa Tengah ke-70. Pembangunan Jateng Valley berlokasi di kawasan hutan pada RPH Gedawang dan Susukan BKPH Penggaron, BH Semarang Barat, KPH Semarang atau berada di wilayah Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang dan Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.

Pengembangan Wahana Wisata Penggaron (Jateng Valley) merupakan kegiatan prioritas nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Kendal – Semarang – Salatiga – Demak – Grobogan, Kawasan Purworejo – Wonosobo – Magelang – Temanggung, dan Kawasan Brebes – Tegal – Pemalang dan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tegah Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 – 2029. Sebagai prioritas nasional, pembangunan Jateng Valley membutuhkan dukungan berbagai pihak agar dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan target yang dicanangkan.

Penggunaan kawasan hutan pada pembangunan Jateng Valley menggunakan 2 mekanisme, yaitu Kerjasama dan Tukar Menukar Kawasan Hutan (TMKH). Mekanisme kerjasama dilakukan antara Perum Perhutani dengan Pengelola Jateng Valley (PT. Taman Wisata Jateng) meliputi kawasan seluas ±371,88 Ha. Lokasi kerjasama direncanakan meliputi kawasan hutan pada Petak 1002 (sebagian), 1004, 1005, 1006, 1007, 1008, 1010, 1011 dan 1012. Sesuai dengan Pasal 7 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.31/Menlhk/Setjen/Kum.1/3/2016 Tentang Pedoman Kegiatan Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam Pada Hutan Produksi, pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam maksimal seluas 10 % dari blok pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam, serta masih dalam batas daya dukung lingkungan areal yang bersangkutan.

Penggunaan mekanisme Tukar Menukar Kawasan Hutan dilakukan dengan Pemohon dari PT. Taman Wisata Jateng meliputi kawasan hutan seluas ± 98,126 Ha yang terletak pada Petak 1002, 1003b, 1003c, 1005a, 1005e dan 1012a. Sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.97/Menlhk/Setjen/Kum.1/11/2018 Tentang Tukar Menukar Kawasan Hutan, permohonan Tukar Menukar Kawasan Hutan dapat diajukan oleh badan usaha kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sesuai Pasal 17, Salah satu persyaratan permohonan Tukar Menukar Kawasan Hutan adalah adanya Pertimbangan Gubernur atas kawasan hutan yang dimohon dan usulan lahan pengganti. Berdasarkan peraturan tersebut, menindaklanjuti Surat Direktur Utama PT. Taman Wisata Jateng Nomor : 008/TWJ/PMHN-DIR/IV/2020 tanggal 15 April 2020 perihal Permohonan Pertimbangan Tukar Menukar Kawasan Hutan, pada tanggal 24-26 Agustus 2020, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama dengan BPKH Wilayah XI, BPDAS HL Solo,  Departemen Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perum Perhutani Divre Jateng, PHW II Yogyakarta Perum Pehutani, PHW III Salatiga Perum Perhutani, Kantor Pertanahan Kabupaten Wonogiri, KPH Surakarta, KPH Semarang, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang, Pemerintah Kecamatan Nguntoronadi dan Tirtomoyo Kab. Wonogiri, Pemerintah Desa Kulurejo, Desa Semin dan Kelurahan Beji Kecamatan Nguntoronadi dan Desa Tanjungsari Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri telah melakukan tinjauan lapangan terhadap calon lahan pengganti dan areal kawasan hutan yang dimohon.

Berdasarkan tinjauan lapangan, calon lokasi lahan pengganti berada di Desa Kulurejo, Desa Semin, Kelurahan Beji, Kecamatan Nguntoronadi dan Desa Tanjungsari Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri seluas ±238,6 Ha. Jumlah tersebut telah memenuhi ratio minimal 1:2 dari luas kawasan yang dimohon ± 98,126 Ha. Calon lahan pengganti yang diusulkan berupa tanah tegalan dengan identifikasi lapangan sebagiannya kondisinya berbatu. Penutupan lahan saat ini berupa tegakan akasia, jati, mete, kelapa dan tanaman ketela pohon dan pisang.

Kawasan hutan yang dimohon terletak pada Petak 1002, 1003b, 1003c, 1005a, 1005e dan 1012a RPH Gedawang dan Susukan BKPH Penggaron, BH Semarang Barat, KPH Semarang. Lokasi yang dimohon untuk pengembangan Wahana Wisata Penggaron (Jateng Valley) tersebut berfungsi sebagai Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan tidak dibebani izin penggunaan kawasan hutan, izin pemanfaatan hutan, dan/atau perizinan lainnya. Kondisi tutupan lahan berupa tegakan pinus, sengon, jabon dan tanaman buah-buahan serta sebagian lahan terbuka.

Sampai sejauh ini, proses penggunaan kawasan hutan untuk Pengembangan Wahana Wisata Penggaron (Jateng Valley) khususnya mekanisme Tukar Menukar Kawasan Hutan telah berjalan dengan baik sesuai dengan prioritas pembangunan dan peraturan yang ada. Untuk itu diharapkan proses selanjutnya dapat berjalan lancar sampai terbitnya Keputusan Menteri tentang Pelepasan Kawasan Hutan yang dimohon dan Penetapan kawasan hutan terhadap lahan pengganti. Dengan demikian mimpi Jawa Tengah untuk memiliki wahana wisata kelas dunia dapat segera terwujud dengan tetap menjaga kelestarian hutan di Jawa Tengah.