DLHK Jateng

FOREST HEROES: MENGINSPIRASI, MENGABDI, MELESTARIKAN

Jawa Tengah Menorehkan Prestasi pada Penghargaan Wana Lestari Tahun 2026

JAKARTA — Penghargaan Wana Lestari Tahun 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali bahwa pembangunan kehutanan bukan hanya tentang hutan, tetapi juga tentang manusia yang merawatnya. Jawa Tengah kembali menorehkan sejumlah prestasi nasional melalui penyuluh, kelompok masyarakat, kader konservasi, kelompok pencinta alam, dan pelaksana rehabilitasi hutan dan lahan.

Dari Penghargaan Menuju Dampak

Penghargaan Wana Lestari merupakan bentuk apresiasi Kementerian Kehutanan kepada individu, kelompok masyarakat, penyuluh, dan pihak lain yang menunjukkan dedikasi dalam pembangunan kehutanan. Pada 2026, Menteri Kehutanan menegaskan bahwa Wana Lestari ke depan tidak cukup berhenti sebagai penghargaan, tetapi perlu menjadi instrumen transformasi: mengidentifikasi praktik baik, mengukur dampaknya, dan mendorong replikasi.

Arah tersebut penting bagi Jawa Tengah. Provinsi ini memiliki sumber daya hutan sekitar 1,38 juta hektare atau sekitar 42,56 persen luas daratan, yang terdiri atas hutan negara dan hutan rakyat. Di sisi lain, masih terdapat tantangan dalam pemulihan lahan. Luas lahan kritis Jawa Tengah tercatat sekitar 317.62G hektare pada 2024, menurun sekitar 1G persen dibandingkan 2022 yang mencapai sekitar 3G2.153 hektare. Perubahan ini menjadi salah satu gambaran bahwa berbagai upaya rehabilitasi, konservasi, dan pengelolaan lahan terus dilakukan bersama di tingkat tapak.

Upaya tersebut juga berjalan melalui Perhutanan Sosial, yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengelolaan hutan. Hingga akhir 2025, Jawa Tengah tercatat memiliki 14G persetujuan Perhutanan Sosial dengan luas sekitar 102.447 hektare dan melibatkan sekitar 2G.747 kepala keluarga. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pembangunan kehutanan tidak hanya berbicara tentang menjaga tutupan hutan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh akses kelola, memperkuat kelembagaan, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan d engan tetap menjaga kelestarian hutan.

Dalam konteks inilah kerja penyuluhan dan pendampingan menjadi penting. Kebijakan dan program tidak akan menghasilkan perubahan di tingkat tapak tanpa ada proses menerjemahkan kebijakan menjadi pengetahuan, kelembagaan, kegiatan, dan usaha yang dapat dijalankan masyarakat. Di sinilah penyuluh, kelompok masyarakat, PKSM, kader konservasi, serta berbagai pihak lainnya mengambil peran.

Karena itu, makna sebuah penghargaan tidak berhenti pada nama penerima. Di balik setiap penghargaan terdapat proses panjang pembinaan, pendampingan, penguatan kelembagaan, pengembangan usaha, konservasi, rehabilitasi, dan kolaborasi berbagai pihak. Para penerima Penghargaan Wana Lestari menjadi wajah dari proses tersebut sekaligus contoh bahwa kerja kehutanan di tingkat tapak dapat menghasilkan praktik baik yang layak dipelajari dan dikembangkan lebih luas.

Jawa Tengah Membawa Enam Capaian di Tingkat Nasional

Kategori Penyuluh Kehutanan PNS — Terbaik ke-1. Agung Darmawan Al Amin, S.Hut., Penyuluh Kehutanan pada CDK Wilayah IX, DLHK Provinsi Jawa Tengah. Capaian ini menunjukkan pentingnya peran penyuluh sebagai penghubung antara kebijakan kehutanan dengan kebutuhan masyarakat di tingkat tapak, sekaligus mendorong masyarakat agar mampu mengelola potensi hutan secara lebih baik dan berkelanjutan.

Kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat — Terbaik ke-2. Jarwanto Tri Anggoro, P., Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, CDK Wilayah X. Penghargaan ini menunjukkan bahwa masyarakat juga memiliki peran penting dalam menggerakkan pembangunan kehutanan. Sebagai bagian dari masyarakat, PKSM dapat menjadi teladan, penggerak, sekaligus sumber pembelajaran bagi masyarakat lainnya dalam mengelola dan menjaga sumber daya hutan secara berkelanjutan.

Kategori Kelompok Tani Hutan — Terbaik ke-2. KT Ngudi Makmur, Desa Tlogoguwo, Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, CDK Wilayah VIII. Penghargaan ini menunjukkan pentingnya kekuatan kelembagaan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan kegiatan kehutanan. Kelompok yang kuat tidak hanya menjadi wadah kegiatan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar, bekerja bersama, mengembangkan potensi, dan memperoleh manfaat dari pengelolaan sumber daya hutan secara berkelanjutan.

Kategori Kader Konservasi Alam — Terbaik ke-1. Ahmad Rif’an, Kabupaten Rembang, binaan CDK Wilayah I. Penghargaan ini memperlihatkan bahwa upaya menjaga kelestarian alam juga membutuhkan sosok penggerak di tengah masyarakat. Kader konservasi berperan menumbuhkan kepedulian sekaligus mendorong kepedulian tersebut menjadi tindakan nyata dalam menjaga lingkungan dan sumber daya alam.

Kategori Kelompok Pencinta Alam — Terbaik ke-1. Kelompok Lembah Maliu, Desa Banjarmangu, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, binaan CDK Wilayah VII. Capaian ini menunjukkan bahwa gerakan masyarakat dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun kecintaan terhadap alam. Melalui aktivitas komunitas, kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh menjadi gerakan bersama yang mendukung upaya konservasi di tingkat tapak.

Pelaksana Rehabilitasi Hutan dan Lahan — Terbaik ke-1. KTH Sukobubuk Rejo, Desa Sukobubuk, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati melalui pengusulan BP DAS Pemali Jratun dan Terbaik ke-2. KTH Sari Bunga Giyanti, Desa Genito, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, melalui pengusulan BPDAS Serayu Opak Progo. Penghargaan ini merupakan capaian para pelaksana rehabilitasi hutan dan lahan melalui mekanisme pengusulan BPDAS. Di tingkat tapak, kelompok-kelompok tersebut juga berada dalam ekosistem pembinaan dan pendampingan kehutanan daerah. Capaian ini sekaligus memperlihatkan bahwa rehabilitasi hutan dan lahan membutuhkan kerja bersama lintas lembaga, dengan masing-masing pihak menjalankan peran sesuai kewenangannya.

Kerja Kehutanan yang Sering Tidak Terlihat

Bagi masyarakat, manfaat pembangunan kehutanan sering tidak hadir dalam bentuk hasil yang langsung terlihat dalam satu kegiatan. Manfaatnya dapat berupa kelompok yang semakin kuat, usaha masyarakat yang berkembang, lahan yang lebih produktif, pohon yang tumbuh menjaga tanah dan tata air, kawasan yang lebih terlindungi, serta meningkatnya kemampuan masyarakat mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Di sinilah penyuluhan dan pendampingan menjadi penting. Penyuluh membantu masyarakat memahami kebijakan, memperkuat kelembagaan, menyusun rencana, meningkatkan kapasitas, mengembangkan usaha, serta menghubungkan kelompok dengan program dan mitra. Proses ini sering berlangsung jauh sebelum sebuah keberhasilan terlihat atau sebuah penghargaan diterima.

Dengan jumlah kelompok masyarakat kehutanan yang besar dan cakupan Perhutanan Sosial yang terus berkembang, pekerjaan tersebut membutuhkan kolaborasi. DLHK menjalankan peran sesuai kewenangannya melalui penyuluhan, pembinaan, fasilitasi dan koordinasi; BPDAS menjalankan peran sesuai mandatnya dalam pengelolaan DAS dan rehabilitasi; sementara masyarakat menjadi pelaku utama di lapangan. Instansi lain, dunia usaha, akademisi, dan mitra pembangunan juga memiliki kontribusi masing-masing.

Penghargaan ini menjadi cermin bahwa ketika kebijakan, pendampingan, kelembagaan masyarakat, dan kerja lapangan bertemu, manfaat ekologis dan sosial dapat tumbuh bersama.

Dari Teladan Menjadi Pembelajaran

Arahan Menteri Kehutanan menempatkan penerima Wana Lestari sebagai pusat pembelajaran dan benchmarking. Keberhasilan diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi dapat diterjemahkan menjadi praktik yang memperkuat pendapatan masyarakat, menjaga hutan, meningkatkan rehabilitasi dan tutupan vegetasi, mempertahankan biodiversitas, meningkatkan serapan karbon, serta dapat direplikasi.

Bagi Jawa Tengah, penghargaan ini menjadi energi untuk terus menggeser orientasi pembangunan  kehutanan:  dari sekadar kegiatan menuju dampak, dari program menuju manfaat, dan dari praktik baik menuju pembelajaran bersama. Tema “Forest Heroes: Menginspirasi, Mengabdi, Melestarikan” menjadi pengingat bahwa hutan yang lestari membutuhkan manusia yang mau bekerja bersama dan terus hadir di tingkat tapak. Para penerima penghargaan adalah wajah dari kerja tersebut. Sementara di belakang mereka ada masyarakat, pendamping, pemerintah, BPDAS, stakeholder terkait lainnya, dunia usaha, akademisi, dan berbagai mitra yang bersama-sama menjaga keberlanjutan hutan dan kehidupan masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top